KARAWANG, Berita Nasional Nusantara — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMAN 5 Karawang berlangsung semarak, Kamis (10/9/2026). Selain tabligh akbar, kegiatan tersebut diwarnai tujuh cabang perlombaan keagamaan sebagai bagian dari upaya sekolah membentuk karakter religius sekaligus menjaring siswa berprestasi.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Momentum Maulid Nabi dimanfaatkan untuk menanamkan nilai akhlak, kedisiplinan, kemandirian, kepedulian, serta semangat berprestasi kepada para siswa.
Tiga prinsip utama turut ditekankan dalam kegiatan tersebut, yakni Be the Best, Be the First, dan Be Different.
Be the Best dimaknai sebagai dorongan bagi siswa untuk menjadi yang terbaik dalam berbagai hal positif. Be the First mengajak siswa menjadi yang terdepan dalam ibadah, belajar, dan akhlak. Sementara Be Different menekankan pentingnya tetap istiqamah melakukan kebaikan meskipun berada di lingkungan dengan berbagai perbedaan.
Pembiasaan positif juga terus dikembangkan di lingkungan sekolah, mulai dari kegiatan senam bersama setiap Selasa, literasi, zikir, hingga berbagai kebiasaan baik yang diharapkan tumbuh dari kesadaran siswa.
Tujuh Lomba Jadi Ajang Menjaring Bibit Unggul
Selain tabligh akbar, panitia menghadirkan sejumlah perlombaan keagamaan. Di antaranya cerdas cermat agama, MTQ, dakwah, adzan, busana Islami, kaligrafi, serta cabang perlombaan lainnya.
Ajang tersebut diharapkan bukan hanya menjadi sarana kompetisi, tetapi juga menjadi proses pencarian bibit-bibit unggul yang nantinya dapat mewakili SMAN 5 Karawang dalam berbagai kompetisi keagamaan di tingkat kabupaten maupun jenjang yang lebih luas.
Di balik semarak kegiatan, persoalan dukungan pembiayaan menjadi salah satu perhatian yang disampaikan pihak pembina Rohis.
Ibu Elis Nurhasanah, atau yang akrab disapa Umi Hana, selaku Pembina Rohis Putri, menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui musyawarah dewan guru, pembentukan kepanitiaan, serta penggalangan dana secara mandiri.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak menggunakan dana BOS maupun alokasi khusus sekolah untuk kegiatan keagamaan.
“Dana tidak bersumber dari BOS atau alokasi khusus sekolah untuk kegiatan keagamaan. Kami ambil dari infak hari Jumat yang ada di masjid sekolah untuk keperluan yang mendesak,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berbeda dengan masa sebelumnya ketika dirinya masih menjadi guru agama dan menurut pengalamannya terdapat alokasi khusus untuk kegiatan keagamaan.
“Dulu, sewaktu saya menjadi guru agama, ada alokasi khusus untuk kegiatan keagamaan, namun saat ini sudah tidak ada lagi — mungkin kebijakannya berbeda,” ujarnya.
Berharap Dukungan Tak Hanya Moril
Umi Hana berharap kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah ke depan mendapatkan dukungan yang lebih konkret sehingga berbagai program pembinaan siswa dapat dikembangkan secara lebih luas.
Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya berupa semangat dan doa, tetapi juga dukungan materiil yang dapat menunjang kegiatan.
“Mudah-mudahan ke depan ada dukungan bukan hanya moril, tapi bukti nyata berupa bantuan materiil. Agar kami bisa bergerak lebih leluasa, menyelenggarakan kegiatan yang lebih besar, lebih luas, dan dampaknya dirasakan lebih banyak anak-anak,” harapnya.
Peringatan Maulid Nabi di SMAN 5 Karawang pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara sekolah, guru, siswa, orang tua, serta berbagai pihak yang peduli terhadap pembinaan generasi muda.
Dengan pembinaan karakter dan ruang berprestasi yang semakin luas, kegiatan keagamaan diharapkan mampu melahirkan siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, integritas, dan kepedulian sosial.
Agus

