RENGASDENGKLOK ,BNN — Ketua Karang Taruna Desa Amansari, Sakhe, bersama Ketua PAC Ormas NKRI Kecamatan Rengasdengklok, Wahyu Permana alias Kipli, mendatangi Pondok Pesantren Albagdadi untuk melakukan klarifikasi terkait beredarnya video mengenai menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di media sosial, Sabtu (5/9/2026).
Kedatangan keduanya disambut langsung oleh KH Junaedi Albagdadi. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan menjadi momentum untuk meluruskan persoalan sekaligus membahas pelaksanaan program MBG yang menjadi perhatian masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Sakhe menjelaskan bahwa munculnya persoalan tersebut berawal dari kesalahpahaman. Ia menegaskan tidak memiliki maksud untuk membuat kegaduhan ataupun memperkeruh pelaksanaan program MBG.
Sakhe juga menyampaikan permohonan maaf kepada KH Junaedi Albagdadi dan menyatakan kesiapannya menghapus video yang telah beredar di media sosial.
“Saya dan teman-teman meminta maaf yang sebesar-besarnya atas tindakan yang saya lakukan, Bah. Saya siap untuk menghapus video yang sudah tersebar di media sosial,” ujar Sakhe.
Namun, alih-alih mempermasalahkan kritik tersebut, KH Junaedi justru memberikan apresiasi kepada Sakhe dan Wahyu. Menurutnya, kritik yang disampaikan menjadi masukan penting untuk mengetahui kondisi pelaksanaan MBG di lapangan.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Sakhe dan Wahyu atas kritik yang sudah dilakukan. Justru dari kritik itu Abah jadi tahu kalau ada hal seperti itu,” kata KH Junaedi.
Meski mengapresiasi kritik tersebut, KH Junaedi meminta agar setiap persoalan yang muncul dapat terlebih dahulu dikomunikasikan secara langsung. Menurutnya, dialog akan lebih efektif untuk mencari solusi dibandingkan persoalan langsung disebarluaskan melalui media sosial.
“Tapi jangan langsung diviralkan juga. Bisa dibicarakan baik-baik dan langsung ketemu sama saya,” tegasnya.
KH Junaedi juga mengungkapkan bahwa dirinya telah memanggil kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk meminta penjelasan mengenai menu MBG yang menjadi sorotan.
“Saya sudah panggil kepala SPPG-nya,” ujarnya.
Menurut KH Junaedi, menu yang dipersoalkan pada dasarnya telah disusun berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) SPPG. Kendati demikian, ia menilai pelaksanaan program di lapangan tetap perlu memperhatikan kebiasaan makan para penerima manfaat.
Ia mencontohkan masyarakat yang terbiasa sarapan menggunakan nasi sebaiknya tidak secara tiba-tiba diberikan menu yang tidak lazim mereka konsumsi.
“Jangan biasakan memberikan menu yang tidak biasa dikonsumsi oleh mereka yang setiap pagi sarapan menggunakan nasi,” jelasnya.
Pertemuan antara Sakhe, Wahyu Permana dan KH Junaedi Albagdadi tersebut akhirnya menjadi ruang klarifikasi sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.
Kritik masyarakat dinilai tetap penting sebagai bentuk pengawasan terhadap program pemerintah. Namun, penyampaian kritik melalui komunikasi langsung dan konstruktif diharapkan dapat menjadi jalan terbaik agar setiap persoalan di lapangan segera diketahui dan diselesaikan tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
Redaksi BNN

