Oleh: DR. H. Mohamad Husein Khan Alhabsy, S.H., M.Pd.
JAKARTA ,BNN — Manusia dianugerahi Allah SWT berbagai kelebihan, mulai dari harta, kedudukan, kekuasaan, ilmu pengetahuan hingga akal. Semua itu merupakan nikmat sekaligus amanah. Namun, kelebihan tersebut dapat berubah menjadi ujian ketika membuat seseorang merasa paling tinggi, paling benar, dan paling mengetahui dibandingkan orang lain.
Salah satu bentuk kesombongan yang patut diwaspadai adalah ketika manusia menjadikan kemampuan akalnya sebagai ukuran kebenaran mutlak hingga merasa tidak lagi membutuhkan petunjuk Allah SWT.
Akal Adalah Anugerah, Bukan Tuhan
Akal merupakan karunia Allah SWT yang sangat mulia. Dengan akal, manusia mampu berpikir, membedakan yang baik dan buruk, mencari ilmu serta memahami berbagai tanda kebesaran Allah SWT.
Namun, kemampuan akal manusia tetap memiliki batas.
Tidak semua kebenaran harus terlebih dahulu dapat dijangkau sepenuhnya oleh logika manusia. Karena itu, ketika berhadapan dengan wahyu Allah SWT, seorang beriman hendaknya tidak menjadikan keterbatasan akalnya sebagai alasan untuk menolak kebenaran.
Ada perkara yang dapat langsung dipahami dan diterima melalui keimanan. Ada pula perkara yang belum mampu dipahami secara sempurna. Dalam kondisi seperti itu, kerendahan hati menjadi sangat penting.
“Saya belum memahami” tidak sama dengan “hal itu pasti salah.”
Jangan Sampai Akal Mengalahkan Keimanan
Menggunakan akal merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, memuja akal adalah sesuatu yang berbeda.
Memuja akal berarti menempatkan kemampuan berpikir manusia seolah-olah menjadi standar tertinggi yang bahkan berhak menghakimi wahyu.
Ketika seseorang hanya mau menerima kebenaran yang sesuai dengan pikirannya sendiri, sementara sesuatu yang belum dipahaminya langsung ditolak, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya pemahamannya terhadap kebenaran, tetapi juga kerendahan hatinya dalam mencari kebenaran.
Sejarah manusia memberikan pelajaran bahwa kesombongan dapat membawa seseorang kepada penolakan terhadap kebenaran. Iblis menjadi salah satu gambaran bagaimana kesombongan dapat membuat makhluk menolak perintah Allah SWT karena merasa memiliki alasan dan kelebihan.
Karena itu, jangan sampai ilmu membuat kita sombong, jangan sampai kecerdasan membuat kita merasa paling benar, dan jangan sampai kemajuan pemikiran membuat kita kehilangan ketundukan kepada Allah SWT.
Iman dan Akal Tidak Harus Dipertentangkan
Islam tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berpikir. Sebaliknya, manusia diperintahkan menggunakan akal, merenungkan ciptaan Allah SWT, mencari ilmu dan mengambil pelajaran.
Namun, akal seharusnya menjadi alat untuk mencari dan memahami kebenaran, bukan menjadi “tuhan” bagi diri sendiri.
Orang yang benar-benar berilmu bukanlah orang yang merasa mengetahui segala sesuatu. Orang yang benar-benar cerdas justru menyadari betapa luasnya ilmu Allah SWT dan betapa terbatasnya pengetahuan manusia.
Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula kerendahan hatinya.
Renungan untuk Kita Semua
Jangan merasa paling pintar hanya karena mampu membantah.
Jangan merasa paling maju hanya karena berani mempertanyakan.
Jangan merasa paling benar hanya karena logika kita mampu menjelaskan sesuatu.
Dan jangan merendahkan orang lain hanya karena mereka memilih tunduk kepada dalil yang diyakininya sebagai kebenaran.
Akal tanpa kerendahan hati dapat melahirkan kesombongan.
Ilmu tanpa iman dapat kehilangan arah.
Sedangkan iman yang disertai akal dan kerendahan hati akan membawa manusia semakin dekat kepada kebenaran.
Pada akhirnya, manusia bukanlah pemilik kebenaran mutlak. Kita hanyalah makhluk yang sedang mencari, memahami dan menjalani kebenaran yang Allah SWT kehendaki.
Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari kesombongan ilmu, kesombongan kekuasaan, kesombongan harta, dan terutama kesombongan terhadap kebenaran.
Semoga renungan ini menjadi pengingat dan memberikan manfaat bagi kita semua.
DR. H. MOHAMAD HUSEIN KHAN ALHABSY, S.H., M.Pd.

