KHALID BIN WALID DICOPOT DARI JABATAN, BUKAN KARENA KALAH ATAU TERBUKTI BERSALAH

KHALID BIN WALID DICOPOT DARI JABATAN, BUKAN KARENA KALAH ATAU TERBUKTI BERSALAH
Spread the love

TANJUNG LAUT, OGAN ILIR, SUMATERA SELATAN — Kisah Khalid bin Walid r.a., panglima yang mendapat gelar Saifullah atau Pedang Allah, menyimpan pelajaran penting tentang jabatan, kekuasaan, loyalitas, dan keadilan.

Dalam sejarah Islam, Khalid bin Walid pernah dicopot dari posisi panglima utama pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a. Keputusan tersebut bukan karena Khalid kalah dalam peperangan maupun karena terbukti melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya.

Kebijakan Khalifah Umar menjadi pelajaran bahwa jabatan dan kehormatan merupakan dua hal yang berbeda. Kepemimpinan tidak boleh dibangun di atas ketergantungan kepada satu sosok. Kemenangan umat Islam bukan semata-mata karena kehebatan seorang panglima, melainkan karena pertolongan Allah SWT serta perjuangan bersama.

Yang patut menjadi teladan, Khalid bin Walid tidak melakukan perlawanan terhadap keputusan tersebut. Ia tetap menjalankan kewajibannya dan mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat.

Kisah tersebut juga memberikan pesan yang relevan dengan kehidupan bernegara saat ini. Pencopotan seseorang dari jabatan tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut bersalah. Sebaliknya, seseorang yang masih mempertahankan jabatan juga tidak otomatis berarti dirinya benar.

Dalam prinsip pemerintahan dan hukum modern, penilaian terhadap seseorang semestinya didasarkan pada fakta, bukti, aturan, serta proses yang adil, bukan berdasarkan pengaruh, kekuasaan, popularitas, maupun siapa yang paling keras menyampaikan pendapat.

Dari kisah Khalid bin Walid, terdapat pesan mendasar bahwa jabatan pada hakikatnya hanyalah amanah yang dapat diberikan dan dicabut. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang tetap menjaga integritas dan menjalankan tanggung jawab ketika berada dalam maupun di luar kekuasaan.

“Jabatan dapat dicabut, tetapi kebenaran tidak boleh dicabut. Kekuasaan dapat berpindah, tetapi keadilan harus tetap berdiri.”

Pada akhirnya, manusia hanya memegang amanah untuk sementara. Kekuasaan merupakan ujian, jabatan merupakan amanah, dan setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Oleh: Budi Rizkiyanto — Menceritakan Kembali


Spread the love

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *